Jadi cerpen ini pernah dibuat dan di posting 9 April 2017 di Line. Happy Reading!
Sebuah cerpen berjudul "Pelangi" by gue sendiri*eaa
15+
Sabtu, 1 Januari 3017
Tidak seperti biasanya tahun baru seperti ini. Maksudku, ya hujan. Aku kurang suka dengan cuaca seperti ini, mendengar kata 'hujan' saja aku menghela nafas. Aku tidak tau mengapa aku tidak suka dengan hujan.
Sebelumnya perkenalan namaku Reinhard. Cowok berumur 16 tahun yang tidak suka hujan. Salam kenal dariku.
-
Aku melangkahkan kakiku untuk keluar rumah secara hati-hati. Karena sehabis hujan kita pasti akan menemukan yang namanya genangan. Dan aku tidak suka juga dengan genangan. karena saat kau menginjaknya, kakimu akan basah dan kotor. Itu menjijikkan menurutku. "Guk guk guk." suara gonggongan Jake membuatku menoleh. Tumben sekali dia ingin ikut denganku.
"Astaga Jake. Kau kan tau, aku baru saja memandikanmu tadi pagi. Kau pasti akan kotor jika menginjak genangan," omelku terhadap Jake.
"Sini kemari aku akan mengajakmu jalan-jalan. Cengiranmu itu membuatku tak tega"
Dengan cepat aku mengambil tali, yang biasanya aku pakai untuk mengajak Jake jalan-jalan dan benda itu digantungkan di lehernya Jake. Entahlah aku tak tau apa nama benda itu. Setelah selesai memasang benda tersebut. Aku dan Jake berjalan-jalan ke taman seperti biasa. Penuh dengan genangan dan rumput basah. Ewh. Aku tidak suka itu. Kemudian aku duduk disalah satu bangku taman.
"Lihatlah Jake di langit sana. Tidak biasanya ada Pelangi. kurasa hujan kali ini berbeda," ucapku pada Jake dan dibalas dengan lidah yang menjulur seperti biasa.
"Hai."
Aku terkejut mendengar suaru itu dan aku langsung menoleh. Ternyata seorang anak perempuan...
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku padanya. Aku memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
'manis' menurutku untuk seorang perempuan, yang berpenampilan rambut panjang, bando berwarna pink, dan berpakaian white dress.
"Aku Pelangi. Asalku dari langit," ucapnya disertai senyuman, dan kau harus tau dia mempunyai lesung pipi.
"Pfft, apa kau bergurau? dari langit katamu? lalu bagaimana kau dibuat, manis?"
Oh, sial aku tak sengaja mengucapkan kata manis. Tapi dia memang manis sih, hehe.
Dia hanya menatapku polos dan berkata. "Aku memang berasal dari langit. oh, iya namamu siapa? aku tidak tau."
"Namaku Reinhard. Dan omong-omong orangtuamu tidak mencari mu kah?" tanyaku yang hanya dibalas senyuman darinya. Aku makin tidak paham.
"Kau ini ingin tau saja," ucapnya kesal
"Dasar, kau ini." Aku membalasnya dengan tatapan sinis.
Aku beranjak dari kusir taman, dan ingin mengajak Jake ke tempat lain.
"Kau mau kemana?" ucapnya tiba-tiba dan bangkit berdiri
"Bukan urusanmu," balasku cuek
"Aku takut sendiri di sini." Aku melihat wajahnya yang ketakutan dan memohon seperti itu. Baiklah, aku tak tahan melihat seorang gadis memberi tatapan seperti itu.
"Mari ikut aku."
Dan dia berteriak dengan gembira. Menyebalkan dan berisik.
-
"Apakah kau tidak lelah? berbicara terus seperti itu?" tanyaku heran. Bagaimana tidak, sepanjang jalan tadi. Dia berceloteh terus, dan telingaku panas mendengarnya.
"Apakah kau tidak lelah? mengomeliku terus?" balasnya terhadapku
"Ah, sudah lah aku lelah berdebat." Aku mengedarkan pandangan di sekitarku. Dan aku melihat ada tukang eskrim di sana.
"Kau mau eskrim?" tawarku padanya
Dan ia balas dengan mengangguk semangat.
Setelah membayar dua buah eskrim tersebut. Aku langsung duduk di rumput tempat di mana Pelangi dan Jake menungguku.
"Ini eskrimnya." Aku memberikan eskrim yang berbentuk cup kepadanya. Dengan cepat ia membuka bungkus eskrim tersebut.
"Guk guk guk."
"Astaga Jake. aku lupa membelikan eskrim untukmu" aku hanya mengelus bulunya saja. kemudian aku membuka bungkus eskrim.
"Ini Jake. kau mau kan?" ucapnya sembari memberi eskrim kepada Jake.
"Tidak usah. Nanti akan kubelikan besok untuk Jake," ucapku melarangnya.
"Tidak apa-apa. Aku memberikannya ikhlas," balasnya lembut.
Setelah selesai memakan eskrim. Aku, Pelangi dan Jake. Kami hanya menatap langit yang mulai sore, dan melihat pelangi yang mulai memudar.
Aku menoleh ke arah Pelangi. Ia tampak murung. Kira-kira ada apa ya?
"Kenapa wajahmu seperti itu?"
"Hmm, aku sedih. Karena aku harus pulang Rein," jawabnya dengan nada lemas.
"Ada apa?"
"Kau lihatkan langit di atas?"
Aku membalasnya dengan anggukan.
"Pelangi mulai memudar. Dan aku harus pulang," ucapnya sembari berdiri tiba-tiba,dan aku serta Jake juga ikut berdiri.
"Kau bergurau," ucapku santai
"Tidak, aku tidak bergurau," ucapnya menahan nangis.
Secara tiba-tiba Pelangi mencium bibirku dengan lembut. Awalnya aku tak percaya dia menciumku. Lalu aku membalas ciumannya secara lembut juga.
"Guk guk guk." Jake menggonggong tak suka. Mengganggu saja anjing itu.
"Maaf, aku menciummu," ucapnya grogi.
"Tidak apa-apa,"jawabku santai
Sedetik kemudian aku melihat tubuh Pelangi, mulai memudar seperti debu peri di film Tinkerbell. Astaga, dia memang akan pergi. Aku tidak menyangka jika omongan dia benar. Tiba-tiba saja aku merasa sedih dan tidak mau kehilangan.
"Jangan kumohon." aku pastikan wajahku kali ini, terlihat seperti pria yang menyedihkan dalam opera sabun.
"Maaf, aku memang harus pergi. Kau akan merasakan keadaanku saat hujan, dan aku akan ke sini jika Pelangi datang," ucapnya dengan suara yang lembut dan senyuman.
"Selamat Tinggal Reinhard."
Sejak saat itu aku tidak membenci hujan lagi. Karena pada saat hujan, aku merasakan kehadiran Pelangi. Cinta sesaatku yang manis.
Ini cuma mengisi kegabutan aja, kalo jelek bodo amat wkwk.
salam,
simphonywhite.
Komentar
Posting Komentar